Wednesday, October 17, 2012

Pisah Rumah dengan Mertua, Keuntungan dan Kerugiannya

Entah sudah keberapa kalinya kejadian ini terjadi dan terjadi lagi, pertengkaran dengan orang tua istri atau mertua terutama ibunya memang tidak dapat dihindari jika kita tinggal serumah dengan mereka. Ditambah sifat beliau yang memang suka memerintah, ingin selalu diperhatikan, ingin menang sendiri, tidak mau disalahkan dan maaf, kalau menurut saya sudah mengarah ke egois akut. Sebagai pihak yang menumpang tinggal, memang sudah seharusnya kita (saya, istri dan anak saya tercinta) mengalah, suatu hal yang sewajarnya kita mengikuti aturan yang dibuat oleh tuan rumah, suka ataupun tidak suka dengan aturan tersebut.

Jika pertengkaran tersebut hanya terjadi sekali atau dua kali dalam sebulan, masih bisa saya anggap wajar, tapi kalau terlalu keseringan, capek juga menghadapinya. Yang perlu ditekankan di sini, pertengkaran tersebut bukan saja terjadi antara saya dengan beliau, tetapi seringnya terjadi dengan istri saya (anaknya) dan ayah mertua (suaminya). Sampai dibuat terheran-heran, kok bisa tahan seumur hidup mereka menghadapi orang seperti itu.

Solusinya sebenarnya sudah jelas dan kita mampu, yaitu pisah rumah dengan mertua (orang tua). Rumah kita sudah punya, walaupun relatif kecil tapi ya cukuplah buat keluarga seperti kita yang baru punya satu anak, untuk ke depannya lahan yang kita punya masih bisa untuk dikembangkan menjadi rumah untuk 3 anak dan 2 orang tua ditambah mungkin satu pembantu rumah tangga. banyak keuntungan yang bisa didapat dari tinggal di rumah sendiri, seperti yang pernah dituliskan di blog ini mertua adalah sebagai berikut:

1. Lebih mandiri
Layaknya seorang ‘Pecinta Alam’  yang hidup survival di  sebuah hutan, maka hal itu berlaku pula dalam hal kehidupan rumah tangga dimana sepasang suami-istri muda dituntut untuk dapat mengatur dan menjalani kehidupan barunya terlepas dari semang orang tua. Dengan melepaskan ketergantungan dengan orang tua, kita bisa cepat belajar jadi orang tua yang kuat, yang bisa digantungkan hidupnya nanti oleh anak-anak.

2. Sosialisasi dengan  tetangga
Ketika keluarga kecil kita  bisa bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan yang baru, hal itu merupakan nilai plus bagi kita, bersosialisasi dengan tetangga akan membuat kita menjadi lebih percaya diri, karena lepas dari bayang-bayang orang tua kita yang jelas sudah lebih dikenal di lingkungannya. Ini akan membawa kepercayaan diri kita untuk bergaul dan beraktivitas di masyarakat ke depannya.

3. Memahami perjuangan orang tua
Jadi kita bisa lebih bersyukur dan lebih sayang orang tua. berempati kepada orang tua dengan berada di posisi mereka. Dengan ini, kita bisa lebih bersyukur dan lebih ingat untuk mendo’akan mereka berdua.

4. Dituntut  bisa dalam berbagai pekerjaan rumah.
Sang istri jadi dituntut masak tiap hari, sang suami harus punya kemampuan jadi tukang, dengan pindah ke rumah  baru, entah itu mengontrak ataupun milik sendiri, suami-istri dituntut melaksanakan kerumahtanggan sendiri.

5. Semakin  mencintai pasangan.
Tiap hari berduaan tanpa ada orang lain di satu rumah, tiap hari berkomunikasi, tiap hari beselisih, tiap hari ada hal baru yang diketahui dari pasangan, tiap hari ada inspirasi yang ditularkan ke pasangan, tiap hari melepas dan menerima rasa sayang, maka jangan heran kalau semakin cinta. Karena mencintai bukan hanya saja disebabkan karena hal-hal positif dari pasangan, kita juga harus memaklumi segala kekurangannya dan senantiasa saling memperbaiki diri.

6. Mengerti pentingya proses dan kerja keras
Kita tidak hanya lenggak-lenggok seenaknya menikmati hasil, sebagaimana orang tua menyediakan kita kamar di kala masih lajang, kendaraan, perabotan rumah tangga yang banyak. Itu bukan hasil instantyang mudah didapatkan, melainkan melalui perjuangan berpuluh-puluh tahun. Sedangkan jika  masih tinggal sama orang tua, kita pasti masih memakai semua fasilitas itu Kalo udah tinggal sendiri,  walau kulkas belum punya, mesin cuci tak ada, TVmasih di toko, motor pun masih nyicil, rumah apalagi. Namun,  Kita jadi termotivasi untuk bekerja keras, bersabar dengan proses, danmenunda mrenikmati kesenangan untuk tujuan masa depan.

Semua hal itu dapat kita ibaratkan pada tunas pohon pisang. Bahawa tunas pohon pisang akan lebih cepat tumbuhnya serta cepat berbuah tatkala kita memisahkan tunas dari induknya. Penasaran? Silahkan coba sendiri ya! Artinya,  seorang anak akan lebih cepat berkembang hidupnya kalau sudah tidak bergantung dengan orang tuanya. Alangkah bahagianya jika bisa menikmati masa-masa awal pernikahan dengan kemandirian.

Tapi tidak segampang itu kita pindah rumah, pertama, istri saya adalah seorang anak tunggal, jika kita pergi, mereka yang umurnya sudah lumayan renta hanya berdua ditemani pembantu. Keadaan ini diperkuat dengan kondisi ayah mertua yang menurut kami riskan sekali untuk ditinggal pergi. Setelah sekitar lima tahun yang lau mengalami sakit stroke, kondisi ayah istri saya masih belum bisa normal seperti sedia kala, jika kita tinggal pergi, takutnya jika terjadi apa-apa, siapa yang akan menanganinya. Kedua, jika kita tetap ngotot pindah rumah, tidak kebayang pertengkaran yang akan terjadi nantinya, hal kecilpun bisa ribut berhari-hari apalagi ini, sesuatu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kedua belah pihak.

3 comments:

Fara Dilla said...

Wah, ini mirip situasinya dengan saya. Suami merupakan anak bungsu, laki-laki satu-satunya di keluarga dari 2 bersaudara. Kakak perempuan bersama suaminya merantau di lain kota. Pada awal masa pernikahan kami, saya menyetujui untuk tinggal bersama mertua dengan alasan keuangan dan untuk membantu menemani ibu mertua karena kondisi ayah mertua yang sakit stroke. Keinginan untuk memiliki rumah sendiri sampai saat ini masih ada. Tetapi ibu mertua selalu menyampaikan keberatannya untuk berpisah dengan kami. Dengan alasan rumah beliau terlalu besar untuk ditinggali sendiri, itu alasan yang beliau kemukakan di awal pernikahan, ditambah rasa takutnya karena mesti ditinggal sendiri mengurus bapa yang sakit. Akhirnya kami mengalah. Walaupun sebagai menantu saya sendiri merasa tidak terlalu banyak membantu merawat bapak mertua selama ini. Ketika bapak mertua meninggal, (bapak mertua meninggal baru dua bulan yang lalu, semoga iman Islamnya diterima Allah SWT) keinginan untuk berpisah dari rumah mertua semakin sulit rasanya. Ibu mertua mengemukakan alasan lagi tidak mau ditinggal karena tidak mau berpisah dengan cucu-cucunya (kami telah dikaruniai dua orang putra dari usia pernikahan kami yang hampir 7 tahun) pasti rumah besar ini akan sepi jadinya, begitu menurut beliau. Beliau malah mengancam akan menjual rumah tersebut saja apabila kami keluar dari rumah. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan apa yang akan dilakukan mertua bila kami keluar dari rumah. Tetapi saya memikirkan dari akibat yang dapat terjadi bila kami bersikeras untuk keluar dari rumah tersebut. Rumah tersebut berdiri di atas lahan warisan keluarga ibu mertua. Sedari kecil, ibu mertua menghabiskan lebih banyak waktu hidupnya di lahan tersebut. meskipun pada masa mudanya pernah bekerja di lain kota. Pada akhirnya selalu kembali ke tempat yang sama. Beliau selalu berkata, mencintai tempat tersebut, di tempat lain tidak pernah merasa feels like home (ibu mertua saya pun pernah tinggal dengan ibu mertuanya, tetapi kemudian pulang sendiri ke rumah orangtuanya karena merasa tidak betah). Mertua saya sebenarnya orang yang baik, sholihah, rajin ibadahnya. Tetapi saya merasa bahwa tinggal bersama mertua bukan merupakan solusi bagi kami. Seringkali kami berbeda pendapat tentang pengasuhan anak, dan akhirnya saya menjadi lebih sering mengalah. Saya menjadi orang yang merasa tidak dapat memfungsikan diri saya sebagai orangtua yang baik bagi anak-anak saya. Ada dualisme pengasuhan anak di sini. Hal ini sering menjadi bahan pertengkaran saya dengan suami. Melelahkan sekali.....:(. Saya pun merasa, suami sudah capek dengan pertengakaran yang topiknya masih itu-itu juga tanpa penyelesaian yang jelas. Saya pun sebenarnya tidak ingin suami menjadi durhaka terhadap orang tuanya, terutama ibu yang telah melahirkannya. Keinginan saya, dan mungkin suami, hanya ingin memiliki keluarga yang utuh, suami dan saya dapat memfungsikan diri masing-masing dalam keluarga secara baik, lebih mandiri. Saya kadang berpikir, betapa egoisnya ibu mertua saya....:(. Saya menjadi lebih sering sakit-sakitan akhir-akhir ini, maag, sakit kepala, dan sesak. Emosi saya juga tidak stabil....sedih rasanya.

Effendi Rusdiana said...

Wah saya juga turut merasakan kesedihan yang Ibu alami, sekarang kita sudah mau mempunyai 2 anak Bu, tetapi keadaan masih sama, masih tinggal dengan mertua. Saat ini saya hanya bisa pasrah menyerahkan segalanya kepada yang di atas dan berusaha mengambil hikmahnya saja. Semoga ke depannya kehidupan keluarga saya dan Ibu bisa lebih baik lagi seperti yang diharapkan. Amiin..

Chomz said...

Saya justru kebalikan nya pak.. Setelah menikah, sempat tunggal di rumah mertua (ortu suami). Berhubung hampir setiap pagi selalu diceramahi bahwa harus mandiri dll, bahkan sampai dibandingkan kondisi beliau (ibu mertua) yang dulu sangat mandiri tidak tinggal dg orang tua, belum ditambah problem kakak kakak suami yang kalau ada masalah selalu suami yang kena omelan (suami anak bungsu), plus banyak ketidaknyamanan lain yang tidak mungkin saya umbar, akhirnya saya mohon suami ikut saya pindah ke rumah kecil pemberian dari ibu saya. Gak lama pindah, disusulin diminta pindah lagi karena papa di hentikan kontrak kerja nya jadi tidak ada pemasukan, dengan harapan bisa bantu bantu bayar listrik, air, dan dapur.
SAya berusaha dengan sopan untuk menolak, itu pun sudah atas izin suami karena telah kami bicarakan terlebih dahulu sebelum memberi jawaban, karena kami sudah punya tanggungan anak sulung dari suami sebelumnya plus baby dari suami yg sekarang. Padahal masih ada dua anak lelaki kakak suami tapi selalunya suami saya yang kena. Alhasil sejak saat itu tidak pernah sekali pun papa mama mertua menginjakkan kaki di rumah saya walaupun jarak tidak begitu jauh dan cucu nya sakit, bahkan lebih prefer menengok cucu nya yang di kota lain sambil bela belain pinjam sana sini untuk ongkos... Sedih, jelas.. Kecewa, sangat.. Tapi mau bagaimana lagi, orangtua nya suami.. Setiap kami kunjungi pun ada saja celetukan yang tidak enak untuk didengar.. #curcol